Kemesraan dan Cinta

Hidup adalah perjuangan untuk mendapatkan cintaNya

GRATIS!!! Email motivasional, plus ngajak teman dapat 67 jt

HIDUP ADALAH SURGA BAGI MEREKA YANG MENCINTAI KEBENARAN DENGAN BERGAIRAH

http://www.inspirasio.com/?id=mcsconsulting

Website ini berisi layanan email GRATIS setiap hari, yang berisi motivasi, inspirasi dan prinsip-prinsip penting dalam hidup.

Kami telah mengumpulkan, meramu, dan mem-blender dari berbagai sumber, bahkan menyajikan kepada anda dalam bentuk siap untuk anda nikmati setiap hari.

Lebih dari 100 email, secara periodik, yang berisi kata-kata penuh inspirasi dan motivasi terbaik, yang akan membuat hidup anda lebih berarti..

Tetapi tidak hanya itu..

Situs ini juga dirancang sebagai salah satu sumber penghasilan alternatif bagi anda untuk menambah penghasilan dengan kondisi:

100% BEBAS RESIKO

PALING SPEKTAKULER !!

” Hasilkan Rp.67 Juta,- Lebih”

Hanya dengan mengajak rekan anda bergabung gratis!

http://www.inspirasio.com/?id=mcsconsulting

HIDUP ADALAH SURGA BAGI MEREKA YANG MENCINTAI KEBENARAN DENGAN BERGAIRAH

Hidup adalah tugas, selesaikanlah.

Hidup adalah cita-cita, capailah.

Hidup adalah misteri, singkapkanlah.

Hidup adalah kesempatan, ambillah.

Hidup adalah lagu, nyanyikanlah.

Silahkan melihat penjelasan secara detail dengan mengklik link dibawah ini:
http://www.inspirasio.com/?id=mcsconsulting

Siapa Mau bergabung???

Jadikan Buku Stimulan Otak Anak

Masa kritis perkembangan otak anak terjadi pada enam tahun pertama. Membaca buku bisa menjadi stimulasi untuk perkembangan otak dan intelektual anak.

Psikolog Octaviani Ranakusuma, M.Psi, BA dari Universitas Yarsi mengatakan, stimulasi berarti segala pengalaman, kondisi dan lingkungan yang kondusif dan dapat memberi kontribusi pada perkembangan anak.

“Tujuan stimulasi sebaiknya bukanlah untuk memaksakan kemajuan anak pada arah tertentu, akan tetapi lebih pada memberikan anak pengalaman baru yang berpotensi mengoptimalkan tumbuh kembang anak,” ungkap Octaviani pada seminar membaca di Jakarta, belum lama ini.

Sejak dahulu pun membaca sudah ditanamkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. “Dengan membaca maka dapat membuka pintu pengetahuan bagi anak,” imbuh Octaviani.

Ahli perkembangan anak dari Yale University mengatakan, tidak ada kata terlalu cepat untuk memperkenalkan kegiatan membaca pada anak. Membaca dapat dilakukan pada usia yang sangat dini karena anak sudah dapat mengerti proses membaca.

Para ahli menegaskan, membaca buku bagi anak balita dapat mendorong keintiman emosional dan komunikasi antara anak dengan orang tua. Bahkan, berdasarkan penelitian, anak yang sering dibacakan oleh orang tuanya ketika berusia 1-3 tahun memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik pada usia 2-5 tahun. Selain itu mereka juga memiliki pemahaman bacaan yang lebih baik pada usia tujuh tahun dibandingkan anak-anak yang tidak dibiasakan membaca.

Sebenarnya tidak sulit untuk memperkenalkan membaca pada anak. Dengan ketekunan dan niat yang bulat beberapa cara berikut dapat Anda lakukan untuk membuat anak senang membaca.

Berikut beberapa tips mudah mengajak si kecil menyukai buku :

  • Luangkan waktu 15 menit setiap hari diwaktu santai untuk membacakan cerita pada anak. Saat pulang kerja, setelah makan malam,setelah mengerjakan pekerjaan rumah atau menjelang tidur.
  • Anda dapat mengusulkan pada pihak sekolah untuk diadakannya kegiatan membaca cerita yang dilakukan oleh guru. Kegiatan membaca dapat dilakukan pada taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
  • Biasakan untuk memberi hadiah buku pada saat anak berulang tahun.
  • Dorong anak untuk melakukan  kegiatan membaca dengan teman-temannya.
  • Ciptakan suasana membaca di rumah maupun disekolah. Sediakan rak buku untuk menyimpan buku bacaan yang bervariasi.
  • Ajak anak berwisata buku dengan mengunjungi pameran buku, toko buku atau perpustakaan.
  • Kurangi waktu menonton TV dan main game. Gunakan waktu untuk membaca dan membahas cerita yang dibaca. Mintalah pada anak untuk meneceritakan ulang isi buku yang dibacanya.
  • Kebiasaan membaca juga harus dilakukan oleh orang tua karena orang tua adalah figur yang akan dicontoh oleh anak.
  • Membiasakan anak membaca, dikatakan Octaviani, sebagai investasi di masa depan. Selain anak menjadi cerdas, membaca juga diyakini dapat membuat seseorang mencegah degradasi otak seperti pikun atau alzheimer di masa tua mendatang.

Penting Berlaku Adil pada Anak

Sikap adil merupakan salah satu sikap mulia yang perlu diterapkan oleh umat muslim. Sebagai orangtua, penting untuk berprilaku adil terhadap seluruh anak-anaknya agar tidak timbul kecemburuan yang menggangu keharmonisan keluarga.

Ketika Allah mengartikan keadilan, maka Dia akan meniadakan penindasan. Allah telah melarang penindasan dan ketidakadilan terhadap-Nya. Seperti tertulis dalam firman Allah mengenai hari kiamat yang berbunyi, “Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (QS. al-Mu’min (40) : 17)

Nabi Muhammad juga berkata, “Wahai hamba-hamba-Ku, Aku haramkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu juga haram di antara kamu,maka janganlah  kamu saling mendzalimi satu sama lain.” (Hadis Qudsi, Sahih Muslim 4674).

Keadilan adalah prasyarat dari ketakwaan. Tak ada seorang pun yang benar-benar takut kepada Allah tanpa berlaku adil. Seseorang baru bisa dikatakan memiliki keyakinan kuat jika memiliki tujuan berlaku adil dalam hidupnya terhadap Allah dan sesama manusia termasuk saat bertransaksi dan jual beli.

Seseorang yang tidak berlaku adil maka tidak akan dikategorikan sebagai orang beriman. Firman Allah berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mai’dah (5) : 8)

Semua orang tak terkecuali dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda, percaya terhadap keadilan. Bahkan orang yang tidak adil dalam kehidupan mereka tertarik dengan konsep dan merespon positif di hati mereka ketika disebutkan keadilan. Hal itu karena sebagai manusia memiliki insting kecintaan terhadap rasa adil yang tetap ada di hati dalam kondisi apa pun.

Tidak ada yang lebih tak adil ketika orangtua berlaku tidak adil kepada anak-anaknya dalam memberikan hadiah, kebaikan perilaku dan dukungan yang diberikan.

Seperti diceritakan dalam sebuah hadis Al-Bukhari dan hadis Muslim, salah seorang sahabat Nabi Muhammad, Bashir bin Sad pada suatu meminta beliau untuk bertindak sebagai saksi ketika memberikan hadiah pada salah seorang anak laki-lakinya, Al-Nu’man. Nabi kemudian bertanya “Apakah kau berikan hadiah yang sama pada semua anak-anakmu?”

Bashir mengatakan tidak. Kemudian Muhammad berkata “Aku tidak bisa bertindak sebagai saksi dari ketidakadilan”.

Dalam hadis tersebut tampak, Nabi Muhammad mengatakan hal itu sebagai ketidakadilan terhadap anak-anak, yang sebagian diberikan hadiah lebih banyak dibandingkan anak yang lain.

Para pemuka agama menanggapi keadilan terhadap anak-anak dengan hati-hati. Mereka memastikan untuk mencium semua anak-anak ketika datang, tanpa ada satu anak pun terlewatkan. Sehingga tidak timbul kecemburuan atau iri antara satu anak dan lainnya.

Pada akhirnya, diharapakan dapat terjalin harmoni dalam rumah. Lebih jauh lagi, rasa kasih sayang itu dapat dirasakan oleh lingkungan sekitarnya.

Orangtua perlu mendukung satu sama lain dalam menunjukkan rasa adil diantara anak-anak. Terutama pada anak yang lebih tua kepada anak yang lebih muda. Apalagi kakak bisa menjadi pengasuh atau pengganti orangtua jika berhalangan atau meninggal dunia.

Namun yang tak kalah penting, keadilan bukan berarti pembagian uang yang sama. Kebutuhan setiap anak harus diukur dengan cermat berdasarkan kebutuhannya.

Contonya, seorang mahasiswa di universitas tentu membutuhkan dukungan keuangan lebih banyak dibandingkan adiknya yang masih di sekolah menengah atas. Demikian juga jika siswa sekolah menengah dibandingkan dengan kebutuhan anak di sekolah dasar atau taman kanak-kanak.

Ketika orangtua membelikan anak-anak perempuannya perhiasan emas, maka anak laki-laki diberikan hadiah lain.  Sebaiknya, orangtua menyediakan hal-hal yang dibutuhkan anak-anaknya sesuai kebutuhan pada saat itu tanpa memperlihatkan ketidakadilan. Jika kebutuhan anak sama, maka mereka tahu akan diperlakukan dengan sama pula.

Dongeng dan Kreatifitas

Menanamkan nilai kehidupan sejak dini pada anak memang tidak mudah. Diperlukan trik khusus agar anak memahami nilai kahidupan. Salah satu cara yang mudah dan efektif adalah dengan mendongeng.

Dongeng bisa menjadi cara yang menarik untuk menanamkan suatu konsep atau pemikiran. Sejak dahulu dongeng diyakini memiliki kekuatan paling ampuh untuk mengajarkan nilai-nilai moral, budi pekerti, dan konsep dunia lainnya pada anak-anak.

Sebut saja dongeng tentang Mahabharata dan Ramayana dari India yang menceritakan tentang kepahlawanan. Tak kalah luar biasa, Indonesia juga memiliki dongeng yang dapat menjadi bahan ajar untuk anak-anak seperti cerita si kancil yang mengajarkan banyak nilai moral dan kearifan lokal.

Psikolog Octaviani Ranakusuma, M.Psi,BA dari Universitas Yarsi mengatakan dongeng dapat membuat anak lebih mudah memahami aturan dunia yang begitu kompleks melalui dongeng yang sederhana daripada mendengar begitu banyak larangan dan aturan.

“Dengan mendongeng orang tua atau guru dapat menyampaikan tentang aturan dunia, dengan cara yang tidak kaku,” ungkap Octaviani pada seminar ‘Mendidik Melalui Dongeng di Jakarta, Selasa (2/6).

Seorang ahli jiwa psikiatri dari Harvard, AS, Lawrence Kutner, Ph.D bahkan mengatakan, dongeng dapat mengajak anak memasuki pengalaman hidup tanpa resiko. Anak juga dapat memetik hikmah dengan mengidentifikasi diri dengan tokoh cerita.

Sungguh luar biasa kemampuan dongeng untuk menanamkan nilai kebaikan. Namun Octaviani juga menyarankan agar orang tua teliti pada saat memilih dongeng yang akan diceritakan pada anak.

“Sesuaikan dengan usia anak. Apalagi ketika saat mendongeng orang tua juga memperlihatkan buku bacaannya,” imbuh Octaviani.

Dia memaparkan beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua saat ingin mendongeng. Untuk memilih buku cerita, perhatikan panjang ceritanya. Anak biasanya tidak akan bisa berlama-lama pada satu hal. Pilihlah cerita dengan durasi sekitar 10 sampai 15 menit. Saat anak mulai bosan biarkan dia melakukan apa yang dia mau.

“Akan mudah menanamkan sebuah konsep ketika anak sedang rileks. Untuk mendapatkan keadaan rileks pada anak cukup sulit. Biasanya anak akan tahan mendengarkan dongeng hanya sekitar 15 menit,” paparnya.

Pilihlah cerita sesuai dengan tingkat pemahaman anak. Untuk anak-anak usia dini, pilihlah cerita yang sesuai dengan kegiatan keseharian mereka atau apa yang mereka temui di sekitarnya. Misalnya tentang hewan, warna, makan atau bermain ayunan.

Sesuaikan Usia

Untuk anak mulai memasuki usia sekolah dasar, orang tua dapat memilihkan buku yang lebih panjang dan sulit. Sehingga secara tidak langsung buku tersebut dapat membantu anak memperkaya perbendaharaan kosakata dan pengetahuannya.

Agar anak tertarik pada dongeng yang akan diceritakan, orang tua dapat memilih buku cerita dengan penyajian visual yang menarik. Anak-anak berusia dini, dikatakan Octaviani akan lebih menyukai ilustrasi yang sederhana dengan warna-warna yang mencolok.

Gambar pada buku cerita harus jelas, tidak terlalu ramai dan seharusnya dapat menjelaskan cerita bahkan tanpa teks di dalamnya.  Terlebih, secara psikologi, Octaviani anak-anak usia taman kanak kanak akan sangat menggunakan imajinasi ketika mereka mendengar cerita atau melihat gambar.

” Membacakan cerita atau mendongeng juga dapat menegmbangakan imajinasi anak. Untuk itu orang tua harus hati-hati. Hindari cerita yang eksplisit menyeramkan, mengandung pornografi atau kekerasan,” ingat Octaviani.

Mendongeng memang terdengar kuno. Namun dengan mendongeng para tetua jaman dulu menanamkan nilai-nilai kehidupan pada anak ananknya.Selain mudah dan mengasyikan, Ocataviani meyakini dengan mendongeng artinya orang tua telah memberikan kalori gizi bagi otak anak saat tumbuh kembangnya.

Mendongeng atau membacakan cerita untuk anak memiliki banyak manfaat bagi masa depan anak. Ikatan emosional yang terbangun akan memperkuat kecerdasan emosi anak. Cerita yang dihadirkan akan merangsang daya imajinasi anak yang akan memupuk kreativitas dan ide-ide baru.

Ayah, Teladan & Teman Bermain

Ayah adalah pemimpin rumah tangga, sekaligus menjadi teladan bagi anak-anak. Agar anak tumbuh dengan baik, ayah pun juga harus menyisihkan waktu untuk bermain bersama anak.

Selama ini banyak anggapan, Ayah hanya bertugas bekerja di luar rumah, membiayai sekolah dan kehidupan sehari-hari. Peran ayah dan ibu saling melengkapi dengan mengisi peran yang berbeda.

Hal itu dibuktikan dalam studi yang dilakukan dua orang peneliti, Lamb dan Roopnarine pada tahun 1990. Mereka mengungkap,  ayah mengambil peran yang berbeda dengan ibu dalam berinteraksi dengan anak di berbagai budaya di dunia.

Menurut Psikolog anak dari Universitas Atmajaya, Fabiola P. Setiawan, peranan ayah dalam bermain sangat diperlukan. Bentuk permainannya dapat berbeda antara ayah dan ibu.

Febi, sapaan akrab ibu satu anak itu, mengatakan anak akan membutuhkan sosok ayah saat bermain terlebih permainan yang melatih ketangkasan dan keberanian.

“Ibu terlihat lebih banyak terlibat pada kegiatan yang membutuhkan kelembutan, perhatian dan perasaan, misalnya bermain boneka-bonekaan, masak-masakan, keterampilan tangan, dan sebagainya,” ujarnya.

Sementara, Ayah terlihat lebih banyak terlibat pada kegiatan yang menuntut ketangkasan, keberanian atau ketegasan.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Atmajaya, Jakarta itu mencontohkan, saat bermain di outbond, anak akan lebih sering membutuhkan ayah daripada ibu untuk menemaninya.

Kondisi tersebut bisa dikarenakan anak merasa nyaman dengan sosok ayah yang kuat dan tangkas. Ayah akan cenderung memilih permainan yang melibatkan aktivitas fisik dan lebih menantang. Misalnya bergulat, mengayun atau permainan yang banyak melibatkan pergerakan fisik.

Pemilihan permainan yang baik bahkan bisa menjadi penguat ikatan batin antara ayah dan anak. Misalnya, permainan yang meilbatkan kerjasama antara ayah dan anak seperti bermain bola, futsal, merakitleb pesawat atau robot atau bersepeda bersama.

“Permainan yang erat dengan peraturan juga bisa dipilih ayah ketika bermain dengan putra-putrinya. Misalnya monopoli, ular tangga, catur, dan sebagainya. Peraturan dapat dibuat oleh ayah bersama-sama dengan anak untuk melatih anak disiplin, sportif, dan dapat meningkatkan sikap saling menghargai,” papar Febi.

Namun tidak semua jenis permainan bisa diterapkan pada anak laki-laki dan perempuan. Dengan pertimbangan postur tubuh anak perempuan tidak mungkin diajak bermain ’sekeras’ dan seaktif anak laki-laki.

Bermain bersama anak laki-laki akan membuat mereka merasa lebih tangguh dan kuat. Sementara, anak perempuan akan merasa dihormati oleh lawan jenisnya yang diperankan oleh ayah.

Ayah dapat memilih permainan yang sesuai dengan anak perempuannya, agar tidak ada pandangan putrinya tidak sanggup melakukan hal yang dilakukan saudara laki-lakinya.

“Dengan begitu anak perempuan akan merasa lebih dihormati. Kondisi ini bisa terbawa hingga dia dewasa nanti. Ketika dia mulai menjalin hubungan dengan lawan jenis, diharapkan dia akan lebih peka akan nilai penghormatan,” ungkap Febi.

Waktu ayah di rumah memang tidak sebanyak ibu, namun ayah yang cerdik bisa tetap menjaga hubungan emosi anak dengan menelepon saat jam makan siang.

Saat menelepon ayah dapat mengatakan akan bermain di sore atau malam hari sepulang kerja. Namun yang perlu diingat adalah jenis permainannya. Tidak mungkin mengajak anak bermain fisik yang berat di malam hari karena akan menggangu kenyamanan anak saat tidur.

Permainan yang bisa dilakukan pada malam hari, misalnya setiap anggota keluarga dapat duduk membentuk lingkaran kemudian saling bercerita kejadian yang dilewati siang hari.

Membacakan cerita sebelum tidur juga dapat menjadi pilihan. Ayah dapat menceritakan pengalamannya sewaktu ia berada di usia anak. Kejadian yang paling berkesan tentunya memiliki nilai positif dapat diceritakan ayah sebagai pengatar tidur anak.

Pada akhir pekan atau saat Ayah memiliki waktu luang lebih banyak, Ayah dapat mengajak anak-anak untuk bermain peran. Misalnya, ayah dapat meminta anak untuk berperan sebagai teman yang menganggunya di sekolah, kemudian ayah berperan menjadi anak sambil mengajarkan sikap-sikap yang tepat untuk dilakukan dalam menghadapi perilaku teman.

Diharapkan permainan semacam itu dapat diterapkan anak apabila ia mengalami kejadian serupa. Tentunya permainan peran ini dapat berganti-ganti tema. Bisa saja tema yang dipilih cara menghadapi lingkungan baru atau mengahadapi materi pelajaran yang sulit.

“Keragaman tema diharapkan dapat memperkaya pengetahuan anak akan beragam solusi pemecahan masalah sehari-hari,” pungkas Febi.

Memasak, Sumber Pembelajaran

Ibu, jangan jengkel ketika anak anda ingin ikut terlibat di dapur atau saat anak tiba-tiba memberikan kritikan tentang masakan yang anda buat. Kegiatan memasak bisa menjadi sesuatu yang menarik bagi anak. Lebih dari itu jika ibu cermat dengan memasak bersama, anak dapat mengenal berbagai macam sayuran, buah, bumbu masak berikut manfaatnya.

Esther Boylan Wolfson, praktisi tumbuh kembang anak usia dini mengatakan masak bersama anak sangat menyenangkan meski Esther pun mengakui anak-anak pasti akan membuat suasana menjadi kacau dan dapur berantakan. Waktu memasak akan lebih lama apalagi ketika anak mulai mengacau resep. Namun jika ibu perhatikan seksama semua hal kekacauan yang mungkin, tergantikan dengan banyak hal yang bisa dipelajari anak dari memasak.

Kegiatan memasak senang dilakukan anak usia dua tahun ke atas. Meski bentuk keterlibatan dan pembelajaran akan  berbeda pada anak usia dua tahun dengan yang lima tahun, namun keduanya dapat terlibat dalam proses memasak. Sehingga memasak bersama anak akan menjadi proses belajar sekaligus waktu untuk bersenang-senang.

Banyak cara yang dapat dilakukan agar hidangan makan malam tetap tersaji meski anda menyiapkannya bersama anak. Langkah-langkahnya antara lain:

  • Ajarkan anak terlebih tentang tentang resep. Katakan bahwa resep adalah petunujuk ketika memasak yang harus diikuti.  Anak akan belajar bahwa Anda harus membaca petunjuk dan mengikutinya agar hasilnya masakannya  enak dan menarik.
  • Mengajarkan matematika sederhana. Jelaskan perbandingan jumlah takaran.  Mana lebih banyak,  setengah cangkir tepung atau satu cangkir? Anda juga dapat mengajarkan mana yang lebih besar sendok teh atau sendok makan. Atau berapa banyak setengah cangkir untuk mendapatkan satu cangkir? Melalui cara ini Anda dapat mengembangkan kemampuan mengurutkan sesuatu dengan benar.
  • Ketajaman panca indera.  Untuk melatih kepekaan panca indera anak gunakan bahan masakan dengan berbagai tekstur, bentuk, rasa dan aroma. Anda juga dapat menjelaskan fungsi masing-masing panca indera. Jelaskan kulit sebagai indera peraba, biarkan anak merasakan perbedaan antara beras dan kacang-kacangan. Dengan membedakan rasa garam dan gula, anda mengajarkan lidah sebagai indera perasa. Begitu juga ketika Anda membiarkan anak membaui perbedaan berbagai rempah-rempah dengan wanginya serbuk vanili.
  • Memperkaya kosakata.  Tingkatkan kemampuan bahasa anak dengan memperkenalkan berbagai bahan makanan dan alat memasak atau apapun yang ada di dapur. Tepung, gula, dan telur mungkin sesuatu yang tidak asing dimata dan pendengaran Anda, tapi semua itu menjadi sesuatu yang baru bagi anak usia tiga tahun.
  • Pengembangan konsep. Tingkatkan pengetahuan anak Anda mengenai beberapa konsep. Keras dan lunak. Cair dan padat. Panas dan dingin, mentah atau matang, di luar atau di dalam mangkuk, cepat-lambat, dan lain sebagainya.
  • Mengajarkan anak tentang hubungan sebab-akibat. Tingkatkan kemampuan anak untuk menjawab pertanyaan seperti,  “Apa yang terjadi jika air putih ditambahkan jus buah? Atau buah pisang diganti dengan strawberi?” Dengan begini anak  belajar bagaimana menambahkan,  mengambil atau merubah salah satu bahan akan mengubah seluruh produk.
  • Kerjasama.  Kegiatan memasak ternyata dapat meningkatkan kemampuan anak Anda untuk dapat bekerja sama dengan teman-temannya. ini juga termasuk melatih anak untuk bersabar menunggu gilirannya dan bersenang-senang dengan aktifitasnya.

Terdengar menarik bukan? Dengan melakukan satu aktifitas Anda ternyata telah dapat mengajarkan dan meningkatkan berbagai kemampuan anak. Dengan begitu keseimbangan antara otak kanan dan kiri anak terjaga dan anak tumbuh dengan kemampuan dan kecerdasan yang beragam./cr1/itz

Rangsang Anak Pandai Berbahasa

Seiring dengan perkembangan teknologi, jarak antar negara semakin terasa dekat. Memiliki kemampuan berbahasa yang baik, terutama bahasa internasional, bisa menjadi aset luar biasa dalam kehidupan seseorang.

Menurut peneliti dari Universitas Harvard dan pencetus teori multiple intelegency, Dr Howard Gardner, kecerdasan berbahasa yaitu kecerdasan anak dalam mengolah kata. Misalnya, keterampilan meneritakan atau menggambarkan sesuatu atau kejadian dengan kata-kata. Bahkan jika ibu telaten kemampuan anak berbahasa akan memudahkan anak mempelajari bahasa asing.

Pakar perkembangan anak, Nejeela Shihab mengatakan, orang tua juga sebaiknya mengatahui di usia berapa kemampuan anak dalam berbahasa dimulai agar persiapannya dapat lebih baik. Pada usia dua hingga lima tahun timbul keingin tahuan anak terhadap banyak hal. Berbagai media dapat digunakan, misalnya buku bacaan anak atau tulisan yang terdapat sepanjang jalan.

“Interaksi dengan media makin beragam. Dengan media anak dapat dilatih menjadi pembuat pesan. Latih anak menceritakan kembali apa yang dia baca,” saat ‘Fun Seminar with Cikal’ di RSIA Kemang Medical Care, pekan lalu.

Saat anak berusia enam hingga delapan tahun keterampilan mereka berbahasa lebih meningkat. Orang tua dapat melatih keterampilan dasar berbahasa anak. Salah satunya dengan menanatang anak untuk membuat jurnal perjalanan.

“Membuat jurnal perjalanan setelah mereka pulang liburan merupakan cara untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak. Selain itu juga melatih anak sebagai pembuat atau penyampai pesan,” papar ketua yayasan Cikal itu.

Rangsangan yang terus menerus dari lingkungan menjadi kebutuhan pokok mengembangkan kecerdasan berbahasa anak. Selain itu kebutuhan fisik dan emosi anak dapat terpenuhi dengan mengajak anak mengobrol, menyanyi, atau menceritakan dongeng. Untuk itu, menurut Najeela lebih baik anak diajak mengobrol daripada menonton saat di rumah atau di kendaraan pribadi.

Kebutuhan fisik penting untuk pertumbuhan otak, sistem motorik dan sensorik. Sedangkan kebutuhan emosi penting untung mempengaruhi kecerdasan emosi, hubungan interpersonal dan intrapersonal. Kesimbangan kecerdasan yang dimiliki anak tentunya akan berdampak baik di masa yang akan datang. Anak dapat dengan mudah bersosialisasi dengan teman-temannya.

Kemampuan Logika

Anak yang memiliki kecerdasan berbahasa maka kemampuan logika berpikirnya pun akan berjalan dengan baik. Untung itu menjadi hal yang tidak sulit bagi orang tua untuk mengajari bahasa asing pada anak. Orang tua dapat bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris.

Psikolog anak dari I Love My Psychologist, Dra.Psi.Heryanti Satyadi M.Si membenarkan mengajari anak berbahasa Inggris sedini mungkin memang lebih baik.

Heryanti mengatakan ajarkan anak secara bertahap dalam menerima bahasa baru. Misal dari kegiatan sehari-hari melalui gambar atau sapaan sederhana seperti “Good morning” atau “How are you today?”. Karena untuk mengajarkan anak mempelajari bahasa Inggris lebih formal seperti membaca dan menulis dibutuhkan waktu khusus.

”Cara yang paling mudah mengajarkan anak berbahasa Inggris adalah dengan menggunakannya untuk berkomunikasi dengannya dalam situasi sehari-hari, mengajaknya bercakap-cakap,membacakan buku, menulis surat kepadanya, dan sebagainya,”ujar psikolog yang juga ibu dari 2 anak ini.

Namun yang perlu diingat orang tua adalah kematangan anak dalam mempelajari bahasa asing. Sekiranya anak belum siap untuk menerima multi bahasa, jangan memaksakannya. Karena hal tersebut justru dapat membuat anak mengalami kebingungan bahasa.

Anak Cerdas Berawal dari Rumah

Anak belajar mengucapkan kata pertama, merangkak, berjalan hingga belajar sopan santun dan yang berkaitan dengan kecerdasan berawal dari rumah. Sebagai tokoh panutan utama, orangtua perlu memahami perkembangan otak si kecil.

Menurut dokter anak spesialis syaraf Fakultas Kedokteran Universitan Indonesia (FK-UI), Dr Dwi putro Widodo, SpA(K), proses perkembangan otak anak terbagi menjadi dua tahap yaitu pembentukan sinaps (koneksi) dan transmisi sel otak (komunikasi).

“Pada tahap pertama sel-sel otak membentuk sinaps, yaitu penghubung antara dua ujung sel-sel yang berbeda. Sedangkan tahap komunikasi adalah tahap dimana adanya penyampaian pesan antar sel otak. Fase ini adalah fase dimana proses pembelajaran dan daya ingat dimulai,” paparnya.

Untuk mengoptimalkan proses perkembangan otak anak itutidak cukup dengan nutrisi saja tapi juga stimulasi.Hal senada dituturkan Psikolog anak, Dr Rose Mini AP, Mpsi. Dia mengatakan, saat itu otak anak bagai spons baru yang mampu menyerap segala hal dengan cepat dan maksimal.  “Untuk itu makin banyak pengalaman dan pembelajaran anak, maka makin banyak yang terserap dan anak akan tumbuh cerdas,” ungkap psikolog yang disapa mbak Romi itu.

Namun orang tua harus pandai mengaturnya, tidak asal-asalan sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan kapasitasnya, lanjut Romi. Stimulus yang seimbang bagi otak kiri dan otak kanan akan membantu anak memiliki kemampuan yang seimbang juga antara kemampuan khas otak kiri dan kanan.

Bermain

Stimulus yang paling menyenangkan dan efektif bagi anak adalah dengan bermain. Dengan meluangkan waktu di tengah kesibukan orang tua dapat mengajak anak bermain, misalnya dengan bermain musik, bercerita atau melukis. Dengan melukis anak dapat mempelajari berbagai macam warna, sedangkan dengan bercerita atau membaca anak akan mempelajari banyak kosa kata.

“Biarkan anak memilih permainannya sendiri, dengan begitu anak akan mendapatkan berbagai pengalaman yang menarik rasa ingin tahunya,” imbuh Romi.

Berikan juga anak permainan yang dapat membantu memaksimalkan kemampuan otak dan pikiran seperti permainan yang dapat mengenalkan perbedaan dan klasifikasi. Permainan building blocks atau permainan yang melatih kemampuan emosional dan imajinasi seperti alat musik, permainan yang melatih kemampuan logis dan akal seperti puzzle serta permainan yang dapat melatih konsentrasi dan ingatannya.

Menstimulasi anak dengan bermain sangat menyenangkan dan dapat membantu orang tua melihat kecerdasan pada anak-anaknya. Kemampuan orang tua melihat potensi dan bakat anak sangatlah penting karena masing-masing anak memiliki jenis kecerdasan berbeda.

Sementara itu, Motivator Gobind Vashdev menegaskan pentingnya orang tua menyadari besarnya peran mereka bagi perkembangan anak, terutama untuk perkembangan otak.

Dia memaparkan, untuk mencapai hasil yang optimal, orang tua pun perlu mengenali kekuatan dan kelemahan masing-masing, agar saling melengkapi dan membantu dalam memberikan stimulasi pada anak. Orang tua juga wajib mencari tahu perkembangan terbaru tentang nutrisi dan stimulasi yang baik bagi perkembangan anak.

Perempuan Perkasaku

Telah berkali aku bercerita tentang perempuan yang kupanggil Ibu itu. Namun rasanya aku tidak akan pernah bosan membagi kisah tentangnya lagi. Setiap interaksiku dengannya selalu membuatku makin menghurmati dan mencintainya, lebih dari sebelumnya.

Ibu adalah seorang perempuan desa perkasa, yang terbiasa dengan pekerjaan kasar dalam kehidupan kesehariannya. Pekerjaan kasar  dalam rumah tangga, pekerjaan kasar dalam membantu mencari penghasilan tambahan keluarga dan pekerjaan kasar  dalam kehidupan sosial. Semua pekerjaan itu, membutuhkan kekuatan fisik (dan mental) yang luar biasa. Apalagi, dalam sehari ia kadang harus melakukan ketiganya sekaligus. Ia harus memasak dan berbenah rumah (yang tentu saja semua manual tanpa bantuan peralatan canggih modern), kemudian pergi ke sawah (ketika muda buruh ke pabrik atau membuat batu bata) dan setelahnya ia sering masih harus membantu di tempat orang yang punya hajat (dan di kampung kami, hampir tiap hari ada orang hajatan yang mempercayakan  urusan dapur untuk para tamu pada ibuku). Diluar semua pekerjaan kasar itu, Ibuku juga memiliki aktifitas keagamaan dan organisasi pula seperti di kelompok ibu2 yasinan, ibu2 aisyiah dan perkumpulan Lansia (lanjut usia).

Dan atas semua pekerjaan kasar yang telah dijalaninya bertahun-tahun itu, Ibuku tidak pernah mengeluh. Ia menjalaninya dengan sepenuh hati dan lapang dada. Bahkan di tahun-tahun terakhir, saat tubuhnya mulai dimakan usia, saat osteoporosis dan asam urat mulai menemani hari-harinya,  Ia masih tetap bekerja disawah (yang hasilnya kadang tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan) dan membatu tetangga yang punya hajat atau tertimpa musibah (yang tentu saja tanpa bayaran). Aku harus selalu mengingatkannya untuk mulai lebih banyak istirahat.

Maka, ketika kemudian aku menjalani pekerjaan part time kasar pula dalam masa tugas belajarku di negeri kangguru ini, aku makin menghurmatinya dan mencintainya. Karena aku sekarang bisa merasakan dengan sesungguhnya, seberat apa pekerjaan sehari-hari yang dijalani Ibuku. Bahkan tentu saja “pekerjaan beratku” tetap saja lebih ringan, karena aku bekerja hanya dalam hitungan jam per hari (dan kadang per minggu) sementara Ibuku dalam sehari bekerja berat sejak baru bangun hingga waktunya tidur. Pekerjaanku juga terhitung lebih ringan karena beratnya pekerjaan terkompensasi oleh gaji yang tinggi, sedang pekerjaan ibu berpenghasilan rendah, bahkan lebih banyak yang tak berbayar.

Dan cinta serta hormat itu makin menjula, ketika kudengar respon ibuku saat aku bercerita padanya tentang pekerjaan-pekerjaan sampinganku.

“Oalah Nduk, lha kok ngrekoso men gaweanmu,” itu komentarnya sambil menangis saat  dulu aku bercerita mulai bekerja sebagai  PRT cabutan ( bahasa kerennya disini domestic cleaner) di rumah seorang bule.  Ketika kubilang pekerjaannya sama dengan pekerjaan rumah sehari2 yang selama ini kujalani ketika di Indonesia (ketika masih bersamanya maupun saat aku sudah berumah tangga dan selama itu pula belum pernah pake pembantu), ia tetap berkeras  bahwa itu pekerjaan kasar dan akan membuatku kecapekan. Ketika aku berargumen bahwa apa yang kukerjakan tidak lebih keras dari pekerjaan ibu sehari-hari, dia bilang ia sudah terbiasa dengan pekerjaan keras, sementara aku tidak selain pekerjaan  rumah tangga.

Nduk, mbok wis leren. Mengko malah loro kabeh awakmu,” itu komentarnya  -tetap sambil menangis, bahkan setelah  setahun kemudian- ketika beberapa waktu lalu aku bercerita lenganku sering  kemeng berhari-hari karena kecapekan cuci piring. Ya, pekerjaan terakhirku saat ini adalah sebagai tukang cuci piring di sebuah perusahaan catering.

“Mboten nopo-nopo Bu, dangu-dangu insyaAllah terbiasa,” jawabku. Ibu tetap ngotot bahwa  “Yen kesel wis ora usah nyambut gawe. Sing penting sinaumu! Aja nganti kecer.” Ketika kubilang kali ini aku harus tetap bekerja untuk membayar day care anakku dan membantu suami menabung karena kami sebentar lagi pulang dan banyak biaya menjelang pulang yang harus kami keluarkan (sementara kami bertiga hidup dengan single allowance dari sponsor beasiswaku), Ibu bilang, ” Wis ora usah ngoyo. Insya Allah rejeki wis diatur karo sing kuwoso.”

Duhai Ibu, kau tidak pernah mengeluh atas beban berat yang kau  jalani sepanjang hidupmu, bahkan lebih dari itu, kau tidak rela anakmu menanggung beban yang sama beratnya, kau ingin menanggungkan pula, kau menangis untuknya.

Maka, hanya pintaku pada Sang Kuasa, agar mengganti semua kehidupan prihatinmu dengan kebahagiaan surga. Pinta yang sama, untuk seluruh perempuan perkasa sepertimu, di Indonesia dan seluruh belahan dunia.

I Don’t Need It

Hari itu ruangan di labku sepi. Teman-teman lab yang lain, mulai jarang menampakkan batang hidungnya di lab. Mungkin juga karena hari-hari panjang libur kuliah menjelang musim semi akan mulai datang. Bagi teman-teman labku, sepertinya, libur menjelang musim semi ini, adalah penyegaran untuk mengumpulkan semangat untuk kembali bertempur dengan serangkaian kesibukan-kesibukan seorang mahasiswa saat musim gugur nanti. Bahkan, untuk mahasiswa S1 dan S2 yang sudah menyelesaikan tugas akhir mereka, mulai merancang perjalanan ke luar negeri.

Aku berada di tempat dudukku. Sebuah meja dan kursi yang sebenarnya diperuntukkan untuk pertemuan lab, antara mahasiswa dan sensei. Tapi, apalah daya, labku udah hampir penuh orang, juga bersamaan dengan sedemikian banyaknya peralatan komputer dan buku-buku yang semakin menyesakkan ruangan dengan ukuran sekitar 5×5 meter itu.

Pusing sendiri ternyata tidak enak. Program yang kupandangi sejak tadi tidak menemukan jawabannya. Aku mengerti konsep dasarnya, tapi menerjemahkannya dalam bahasa program ternyata aku masih perlu lebih mengulik lebih dalam. Biasanya kalau sudah berada pada kondisi seperti ini, aku lebih suka bertanya dengan tutorku, seorang mahasiswa S2 yang ditugasi sensei untuk mengajariku tentang penelitian yang akan aku kerjakan.

Alhamdulillah hari itu dia datang. Sebenarnya, kadang terbersit perasaan malu karena sangat sering aku bertanya. Bukan apa-apa, dia menjawab dengan sederhana setiap pertanyaanku, tidak sesulit bayanganku. Tapi, kalau aku malu bertanya, aku akan semakin sesat dijalankan?

Berkomunikasi dengan tutorku berarti berkomunikasi dengan terengah-engah. Dia terbata-bata jika berkomunikasi dalam bahasa Inggris, sedangkan aku berbahasa Jepang sangat jauh dari lancar. Karena itu, biasanya, berdiskusi dengan dia mestilah menggunakan alat bantu kamus. Kadang jenuh juga berhadapan dengan kondisi seperti ini. Tapi, kalau aku mengeluh terus karena language barrier, kapan akan selesainya penelitianku?

Mungkin karena dia juga merasakan capeknya saat berkomunikasi denganku dalam bahasa Jepang, dia mulai menggunakan sepatah dua patah kata bahasa Inggris saat menerangkan logika sebuah algritma. Dan, akhirnya, kita berdua membuat sebuah kesepakatan. Dia akan mengajariku programming dan menerangkannya dalam bahasa Inggris, dan aku akan membenarkan pengucapan-pengucapan kalimat-kalimat bahasa Inggrisnya. Simbiosis mutualisme antara kami berdua mulai berjalan. Bahkan lebih dari itu, dia mulai tidak segan-segan untuk membenarkan pengucapan kalimat-kalimat bahasa Jepangku yang kadang keluar dari koridor grammar yang baik dan benar.

Juga hari itu. Dia menjawab pertanyaanku dalam bahasa Inggris. Dan akhirnya, mulailah dia bercerita.

Fety-san, sekarang aku lagi belajar bahasa Inggris. Biasanya mendengarkan pelajaran bahasa Inggris lewat radio NHK”. ungkapnya di tengah-tengah pelajaran programmingku. Dia bercerita dalam bahasa Inggris.

Oh yah?”, aku surprais mendengarnya. Mungkin ini juga termasuk persiapannya untuk meneruskan ke program doktor tahun depan. Di saat tahun ini, teman-teman angkatannya mulai mencari pekerjaan, dia lebih fokus dengan penelitiannya di bidang pengolahan data gempa (Di Jepang, mencari pekerjaan dilakukan setahun sebelum kelulusan sehingga sesudah wisuda kelulusan, yang biasanya dilakukan bulan April, semua lulusan baik S1, S2 atau S3, sudah mulai bekerja).

Kenapa radio? Bukannya di televisi NHK juga ada siaran berita dalam bahasa Inggris setiap jam 9 malam”, tanyaku.

Di rumah kami tidak ada TV”, jawabnya.

Hmm, menarik nih, batinku. Tentu bukan karena alasan keluarganya tidak mampu membeli TV, itu yang terlintas di pikiranku saat itu.

Kenapa tidak ada TV”, tanyaku. Mungkin pertanyaan retoris. Tapi aku ingin bertanya alasan keluarganya tidak memiliki TV di rumah.

Kami tidak butuh TV”, jawaban sederhana itu mampu membuatku terkejut. Tidak memiliki TV karena tidak butuh?, tanya batinku lagi, bertanya pada diri sendiri.

Salut. Sebuah pilihan yang dipilih dengan sadar. Bukan karena keterpaksaan. Memutuskan memiliki sesuatu berdasarkan tingkat kebutuhan. Kalau memang tidak butuh, mengapa harus memiliki. Juga dengan TV.

Dan, aku teringat dengan suasana di Indonesia. Hampir semua rumah menjadikan TV sebagai kebutuhan pokok, sesuatu yang kepemilikannya menempati rangking teratas, setelah pemenuhan kebutuhan pokok. Dan kadang, acara TV menemani mulai dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali. Bahkan, beberapa asistem rumah tangga di Indonesia, menjadikan TV sebagai senjata ampuh untuk menenangkan dan menghilangkan tangis anak-anak asuhannya.

Sepertinya kita memang harus memulai berfikir tentang acara menonton TV. Dan mulai mengajari anak-anak untuk memutuskan menonton sebuah tayangan atau tidak dengan sebuah pertanyaan: butuhkah kita menonton tayangan itu? Dan kalau kita memang tidak butuh, mengapa tidak kita matikan saja TV kita dan melakukan kegiatan yang lebih bermanfaat. Itu saran seorang Miran Risang Ayu dalam bukunya, Cahaya Rumah Kita. Karena TV, kadang juga bisa menjadi musuh untuk perkembangan jiwa generasi bangsa.

http://ingafety.wordpress.com